Sekolah Islam Al Izzah– Berbicara masalah niat, niat harus senantiasa ada dalam segala aspek aktivitas amalan kita baik berupa ucapan, perbuatan maupun dalam segala hal keadaan, karena Allah SWT berfirman;

قال الله تعالى: وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” (Qs.Al Bayyinah:5)

Ikhlas disini adalah seseorang yang berniat dengan niatan yang lurus baik ucapannya dan perbuatannya demi mengharapkan ridho Allah

Sedangkan Khunafaa: adalah kecondongan diri seseorang terhadap agama-agama yang ada menuju agama yang benar yakni Dinul Islam

Begitu pentingNya masalah niat ini Allah SWT tidak serta merta ridho dan mau menerima suatu amalan dari hambaNya sekalipun amalan itu adalah amalan yang besar seperti udhiyah jika diniatkan bukan untuk mencari ridhoNya, dan orang yang bertaqwa mereka adalah orang-orang yang senantiasa menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi laranaganNya serta mengharapkan ridho ilahi,sebagaimana Allah SWT berfirman;

قال الله تعالى: لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”(Qs.Al Haj:37)

Para ulama berkata: orang yang ikhlas atau mukhlis itu adalah mereka yang berusaha menutupi kebaikannya sebagaimana ia menutupi keburukannya.

Fudahil bin Iyyad berkata: “meninggalkan amalan karena manusia adalah riya,dan beramal karena manusia adalah syirik”

Ibnu Mubarok berkata: “Banyak amalan kecil menjadi besar dikarenakan niat, dan banyak amalan besar menjadi kecil dikarenakan oleh niat”

Rasulallah SAW bersabda :

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.

Kenapa Rasullah mengatakan dalam sabdanya “Sesunggguhnya seluruh amalan itu tergantung dengan niatnya”, karena sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh As-Shobuni dalam kitab Riyadus Sholihin bab niat beliau berkata; ada dua hal yang penting tentang hadits ini yakni bahwasnaya;

  • Pertama dengan niat ini, amalan seseorang hamba bisa dikatakan sempurna jika niatnya benar
  • Kedua dengan niat ini pula amalan seorang hamba itu akan benar jika niatnya benar pula

Syaikh al Utsaimin memberikan penjelasan makna niat:  

  1. Niat ikhlas dalam beramal hanya untuk Allah baik amalan itu berupa amalan lisan/ucapan,perbuatan dan keadaan
  2. Mengandung dua hal point penting, pertama sebagai asas (pokok) bukan ta’kid kedua sebagai sebab untuk mendapatkan balasan (pahala)
  3. Setiap amal harus orang yang beraqal dan merdeka,orang yang tidak beraqal dan merdeka tidak bisa beramal dengan sempurna, karena sebuah amalan itu ditentukan oleh kemauan disertai dengan kekuatan adapaun kekuatan itu sendiri adalah niat yang kuat
  4. Hadits niat ini menunjukan perkara pokok dalam Din dengan dikuatkan sebuah riwayat dari Ibunda Aisyah

قال أهل العلم         : من عمل عملا ليس امرنا فهو ردّ ميزان للظاهر و إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ميزان للباطن

Para ahlu ilmi berkata “(hadits) من عمل عملا ليس امرنا فهو ردّ  itu sebagai ukuran amalan dhohir (luar) dan amalan bhatin (dalam)”

Syaikh al Utsaimin memberikan penjelasan tentang makna hijrah:

فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ . [رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة

فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ

Makan hijrah adalah berpindah

  • Dari satu tempat ke tempat yang lain (dari negri kafir ke negri muslim)
  • Dari satu keadaan ke keadaan yang lain (dari kemaksiatan kepada ketaatan)

Ulama berbeda pendapat mengenai makna Haajirun Naas sehingga terbagi menjadi 3 kelompok;

  1. Minhum Man Yuhajiru yaitu mereka yang berhijrah benar benar murni untuk mencari ridho Allah
  2. Al Muhajirin seorang yang berhijrah untuk urusan dunia bukan untuk Allah dan Rasulnya sehingga ia mendapatkan harta (dunia) atas apa yang ia niatkan
  3. Rijalun Haajirun:Yadaihi Imroah yaitu seorang laki laki yang berhijrah demi mendapatkan seorang wanita

فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari makna hadits ini ulama membagi hijrah kepada 3 bagian:

  1. Al Hijrah Lil Amal meninggalkan perkara dosa menuju ketaatan, senada dengan hadits nabi

…….المهاجر من هجر ما نهى الله عنه

  1. Hijratu al Amal meninggalkan pekerjaan yang dimurkai Allah SWT menuju pekerjaan yang dicintai Allah SWT.

Contoh jika ada seseorag yang bekerja dengan cara curang atau bermuamalah dengan cara ribawi, maka dia harus meninggalknnya dan jika kita tahu akan hal itu maka kita pun harus menghajrnya (mendiamknya), dengan cara tanpa memberi salam kepadanya,tanpa menjawab panggilannya sampai ia tobat.

  1. Hijratu al Makan berpindah dari satu tempat buruk ke tempat yang lebih baik,dari musryik ke tauhid, dari kafir ke iman, dari maksiat kepada ketaatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *